Selasa, 16 Juni 2015

Five Seconds Journey :)



Ini adalah petualangan 5 detikku

Entah bagai mana caraku menjelaskan situasinya. Tidak terlalu jelas tergambar di sana. Tempat, waktu, cuaca, semuanya samar, hanya paras mu yang terlihat jelas. Tuhan, baik sekali mengizinkan aku melihat wajah itu dengan jelas. Meski hanya wajahnya saja. Masih sama, yah dengan hidung itu, mata itu, bibir, itu. semuanya sama, yang paling indah adalah senyum dan caranya memandanku, bahkan di kehidupan nyata aku belum pernah melihat yang seperti itu darinya. Tidak ada kata yang terucap dari bibir manisnya. Tidak satu katapun. Meski aku rindu nada suaranya, melodi kata-katanya, dan yang paling indah adalah irama tahfidz-nya yang dulu mampu meluluhkan seluruh lapisan dalam diriku. Melody yang sama dengan Ziyad Patel, reciter favoritnya, seringkali menerbangkanku ke angkasa cinta melalui surah Ar-Rahman favoritku. Hal yang paling aku rindukan. Seringkali aku bermimpi suatu saat nanti ada yang seseorang melamarku dengan mahar bacaan surah Ar-rahman. Apa ini berlebihan? Selalu ada yang lebih dalam impian seseorang.
Tiba-tiba dia duduk di sampingku, tidak berkata-kata, hanya saling membisu, hanya aku saja yang tersenyu-senyum kegirangan, aku tidak berani melihat wajahnya. Aku menggantungkan lenganku di sisi kursi yang entah bagaimana bentuknya dan entah di galaksi mana aku berada. Tiba-tiba saja ada lengan lain yang menggantung di sana dan menyentuh tipis lenganku. Dunia mimpi memang gila, menciptakan hal yang mustahil di dunia nyata menjadi kenyataan. Namun Indah sekali. Galaksi yang akrab dengan pikiran manusia itu menawarkan sejuta keindahan dengan segala kenyataan yang fana. Dan menarik setiap pengunjungnya untuk tinggal di dalamnya. Ruang tawa dan segala kebahagianya atau ruang gulita yang menciptakan ketakutan tanpa ampun di dalamnya. Hanya 5 detik katanya durasi kita berpetualang di sana, cendikiawan handal yang berkata. Seperti halnya aku yang tak sengaja melangkahkan kaki ke ruang tawa, dimana setiap sisi terlihat samar dan hanya wajah mu saja yang memancarkan cahaya sehingga membuatnya jelas terlihat di mataku, membuatku lupa di belahan dunia mana aku berada dan hanya berfikir untuk tinggal di sana. Tapi kemudian semuanya sirna seketika. Ah! Terlalu singkat rasanya. Aku menginginkan detik yang lain, tapi ah, sudahlah. Karena ternyata sang subuh sudah menggema menjemputku pulang ke dunia nyata, beruntunglah aku karna bisa saja aku terlena terlalu lama di sana. Terimakasih untuk petualangan indah yang mungkin tanpa makna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar