Ini adalah petualangan 5 detikku
Entah bagai mana caraku menjelaskan situasinya. Tidak terlalu jelas
tergambar di sana. Tempat, waktu, cuaca, semuanya samar, hanya paras mu yang
terlihat jelas. Tuhan, baik sekali mengizinkan aku melihat wajah itu dengan
jelas. Meski hanya wajahnya saja. Masih sama, yah dengan hidung itu, mata itu,
bibir, itu. semuanya sama, yang paling indah adalah senyum dan caranya
memandanku, bahkan di kehidupan nyata aku belum pernah melihat yang seperti itu
darinya. Tidak ada kata yang terucap dari bibir manisnya. Tidak satu katapun.
Meski aku rindu nada suaranya, melodi kata-katanya, dan yang paling indah
adalah irama tahfidz-nya yang dulu mampu meluluhkan seluruh lapisan dalam
diriku. Melody yang sama dengan Ziyad Patel, reciter favoritnya, seringkali
menerbangkanku ke angkasa cinta melalui surah Ar-Rahman favoritku. Hal yang
paling aku rindukan. Seringkali aku bermimpi suatu saat nanti ada yang
seseorang melamarku dengan mahar bacaan surah Ar-rahman. Apa ini berlebihan?
Selalu ada yang lebih dalam impian seseorang.
Tiba-tiba dia duduk di sampingku, tidak berkata-kata, hanya saling
membisu, hanya aku saja yang tersenyu-senyum kegirangan, aku tidak berani
melihat wajahnya. Aku menggantungkan lenganku di sisi kursi yang entah
bagaimana bentuknya dan entah di galaksi mana aku berada. Tiba-tiba saja ada
lengan lain yang menggantung di sana dan menyentuh tipis lenganku. Dunia mimpi
memang gila, menciptakan hal yang mustahil di dunia nyata menjadi kenyataan. Namun
Indah sekali. Galaksi yang akrab dengan pikiran manusia itu menawarkan sejuta
keindahan dengan segala kenyataan yang fana. Dan menarik setiap pengunjungnya
untuk tinggal di dalamnya. Ruang tawa dan segala kebahagianya atau ruang gulita
yang menciptakan ketakutan tanpa ampun di dalamnya. Hanya 5 detik katanya
durasi kita berpetualang di sana, cendikiawan handal yang berkata. Seperti
halnya aku yang tak sengaja melangkahkan kaki ke ruang tawa, dimana setiap sisi
terlihat samar dan hanya wajah mu saja yang memancarkan cahaya sehingga
membuatnya jelas terlihat di mataku, membuatku lupa di belahan dunia mana aku
berada dan hanya berfikir untuk tinggal di sana. Tapi kemudian semuanya sirna
seketika. Ah! Terlalu singkat rasanya. Aku menginginkan detik yang lain, tapi
ah, sudahlah. Karena ternyata sang subuh sudah menggema menjemputku pulang ke
dunia nyata, beruntunglah aku karna bisa saja aku terlena terlalu lama di sana.
Terimakasih untuk petualangan indah yang mungkin tanpa makna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar