Kamis, 12 Maret 2015

JUST FOR LAURA HE LIVED AND DIED

JUST FOR LAURA HE LIVED AND DIED
This is the true love story between Tommy and Laura.
Tommy and Laura were a couple who lived in Dunsmuir, California. Laura is the most beautiful girl in the town. Her long and blonde hair make her looked graceful. She was a teacher for poor students in her village and she didn’t asked the payment for it. Beautiful face and charming smile made the men in her town fell in love with her, but her love was just for Tommy. Tommy was ordinary man with extraordinary heart. Tommy was a farmer, he was not a rich man but he is very kind. He was always handing out food to poor children in the town.
Tommy and Laura met in a hut where laura taught children and they were falling in love. Laura and Tommy had been in a relationship for 5 years, they were loving each other. Tommy wanted to give everything for laura, such as flowers, present, and most of all, the weeding ring, because he loved laura more than himself. Tommy wanted to marry Laura with the heart and crowd on the top of the ring. Because Tommy wanted give his whole heart and made Laura as a queen there.
Tommy looked for that ring in the marked but he couldn’t find the ring with the heart and crowd in the top. Then, he asked to the jeweler “ excuse me sir, do you have a ring with crowd and heart on the top?” “like this one?” the jeweler took the ring from the small box and showed it to Tommy. Tommy was very happy because he found the ring that he looked for. Tommy wanted to buy the ring for Laura, “what the price of this ring?” Tommy asked. The jeweler took the ring from Tommy’s hand and said “ this is a special ring because the heart and crowd on the top make it looks more luxurious so, the price little more expensive, its about a thousand dollar” Tommy was sad because he did not have that much money. Then, he said to the jeweler to keep that ring for him.
Tommy left with feeling confused, suddenly when he was walking He saw a sign for a stock car race and and the prize were thousand dollar, tommy was very happy and then he called laura on the phone but her mother answered the call and said that laura was teaching the children at that time. Then tommy asked to her mother to conveyed Tommy’s words “ please, Tell Laura I love her, tell Laura I need her, tell Laura I may be late, I've something to do, That cannot wait.”
He drove his car to the racing grounds and he felt very nervous because he was the youngest driver there, but he just thought about the ring and laura. After all of driver was ready, the race was started. Around the track they drove at a deadly pace, but tommy couldn't control his car and he was thrown out from the track. No one knew what happened that day, how his car overturned in flames, But as they pulled him from the twisted wreck, With his dying breath, they heard him say “Tell Laura I love her, tell Laura I need her, tell Laura not to cry, my love for her will never die” then Tommy immediately died. The people who heard his last words were compassionate, because in his last breath he just remembered his girl and said that he loved her.
Laura was shocked after hearing the news of the death of Tommy and she cried like rain a day she was very sad and couldn’t believed that Tommy left her soon. The people who helped Tommy from the accident told her the last words of Tommy and laura fainted after hearing the words.
Two days later the jeweler came to the laura’s house and he found laura was not in a good condition. Laura asked  him who was him and why  he came to laura’s house, then the jeweler told the story about Tommy and the ring. Laura was cried again because she knew how Tommy was loving her. When laura was cried as the jeweler gave the ring to Laura as a gift from Tommy, although tommy has not had time to bought it.
After that,  Laura went to the chapel with the ring and prayed for Tommy who passed away with tears on her cheeks, she knew that just for Laura he lived and died. Laura very loved him and she prayed hopefully for Tommy’s happiness in the heaven. Suddenly, in the middle of Laura’s prayer, she heard the familiar voice, it was Tommy’s voice and he said “ tell Laura I love her, tell Laura I need her, tell Laura not to cry, my love for her will never die, tell Laura I love he.” Laura cried uncontrollably when she was hearing the voice.
That was a tragic story about true love, true love will never die, even one of them had died but his love is still alive.


"Love is not about wealth but, loyalty"

di angkat dari lagu " Tell Laura I Love Her" - Ray Peterson

Minggu, 01 Maret 2015

monyet pertama



“eh.. maaf!” kataku saat tak sengaja menabrak seorang siswa laki-laki di tengah lorong di belakang tempat parkir, dia  tidak mengatakan apapun, dia hanya melempar senyum manisnya sebentar. Hari itu adalah hari pertama aku masuk ke sekolah menengah pertama, sekolah yang sama sekali tidak aku inginkan, karna aku di paksa masuk ke sebuah Smp yang bernaung di bawah organisasi Muhammadiyah. Aku sudah mengatakan pada orang tua ku berkali-kali bahwa aku ingin masuk ke sekolah Negeri seperti teman-temanku yang lulus dari SD yang sama denganku, hampir seluruh teman-temanku masuk ke sekolah Negeri itu dan yang paling parah adalah tidak satupun dari mereka yang mendaftar di Smp Muhammadiyah ini, “kamu harus mendapat pendidikan agama sebagai dasar untuk melanjut ke sekolah Negri nantinya!” begitu alasan orang tuaku memaksaku masuk ke sekolah ini. Apa boleh buat, aku hanya bisa menuruti kemauan mereka.
Aku sedang bingung mencari teman dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak mengenal siapapun di ini kecuali tetaggaku, tapi dia bukan siswa baru di sana, sudah dua tahun dia bersekolah disekolah ini. Aku hanya duduk sendirian di depan sebuah ruang kelas yang sepi, “ hai..!” seseorang mengagetkanku, “ehh.. iya hai “ jawabku seadanya. Kemudian dia terus bertanya dan kami pun berkenalan hingga kemudian aku tahu dia bernama Fona Sagesti, dia menjadi teman pertamaku di sekolah baru itu.
Di tengah-tengah percakapan ku dengan siswi bernama gesti itu tiba-tiba bell berbunyi tanda upacara akan di mulai, aku dan gesti berjalan menuju halaman untuk berbaris. Upacara berjalan dengan sangat membosankan, dan lama entah apa yang di bicarakan oleh kepala sekolah itu, yang terdengar hanyalah bising para siswa baru yang tidak tahu bagaimana cara menutup mulut. Di ahir upacara siswa baru di panggil satu persatu untuk pembagian kelas dan aku berada di kelas 7a, sama seperti gesti tapi bukanya duduk denganku dia malah duduk dengan temannya yg berasal dari desa yg sama, aku memilih untuk duduk di bangku nomer dua, kemudian dua siswi yang bernama Lulu dan Sarah menghampiriku dan duduk di sebelahku, karena kelas yang tidak memadai sebagian dari kami harus duduk bertiga dalam satu bangku yang panjang,” ini tidak akan terjadi jika aku masuk sekolah Negeri” pikirku geram.
Hari-hari pertama aku lalui dengan biasa, aku mulai dekat dengan temanku sarah, karna belakangan aku tahu dia adalah anak dari teman dekat ayahku. Aku tidak terlalu memperhatikan anak-anak yang sekelas dengan ku, hingga pada suatu hari aku baru menyadari ketika salah satu guruku menunjuk seorang siswa untuk menjawab pertanyaan, dan aku sedikit terkejut karena ternyata dia adalah siswa yang aku tabrak di lorong sekolah, aku bahkan sudah lupa tentang hal itu, tapi senyum dan wajahnya yang manis itu membuatku diam dan memperhatikanya untuk beberapa menit. “ hey.. dia adalah adik sepupuku..” suara sarah mengagetkanku “benarkah?” jawabku terkejut “iya rumahnya dekat dengan rumahku, namanya Didi” timpalnya lagi. Entah kenapa dan bagaimana aku merasa penasaran dengan siswa bernama Didi itu. Aku sering diam-diam memperhatikanya, dia adalah siswa yang pendiam tapi terkesan berbeda bagiku. Hari-hari berjalan dengan normal, sebagai anak 12 tahun yang baru mengenal “monyet” pertama aku malu menunjukan ketertarikanku, jadi aku berusaha terlihat senormal mungkin saat berada dekat denganya. Kami tidak pernah mengobrol, sama sekali, hanya sesekali mencandainya. Melihatnya saja membuat gemuruh hati ku, menurutku dia adalah siswa paling tampan di kelasku, selain dia cool, ehm... maksudku pendiam wajahnya yang baby face itu tidak bisa di kalahkan oleh siswa yang lain meskipun ada salah satu siswa yang lumayan ganteng (mirip shahrukh khan) tapi belum bisa mengalahkan pesona “monyet” pertamaku.
Aku mulai mencari-cari berita tentangnya dari sarah, sesupunya sekaligus teman dekatku. Dari sarah aku tahu berapa saudaranya seperti apa sifatnya, dan rumahnya. Semakin lama sarah curiga dengan pertanyaan-pertanyaanku, “ hayo, kamu nanya terus tentang Didi, kamu suka yaa?”, suka? Aku tidak tahu, aku belum pernah penasaran pada seseorang, ini hanya perasaan yang berbeda, perasaan yang belum pernah ada sebelumnya, “ gila, gak lah suka kenapa, kenapa aku suka” aku mengelak sebisaku tapi gelagat salah tingkah tidak bisa aku sembunyikan dari sarah, dia terus mendesaku hingga ahirnya aku mengakuinya. Dia menertawakanku, dan betapa malunya aku. Kepalang basah bisa apa aku, tapi sejak saat itu aku dengan bebasnya menanyakan semua hal tentang nya. Perlahan aku mulai berani bertanya ke hal-hal yang lebih mendalam, aku bertanya apakah dia pernah punya seseorang yang dia suka.
Pertanyaan bahwa” apakah dia punya seseorang yang dia suka?” mendapatkan jawaban yang cukup untuk menghancurkan rangkaian bunga di depan mataku terbang berhamburan entah kemana, ternyata dia tertarik dengan tetangganya yang ternyata juga teman sekelas kami, namanya Rohma, dia cantik jauh lebih cantik dari ku tentunya, dan dia juga termasuk golongan siswi yang populer di kalangan para siswa. Sontak membuatku diam dan menyerah.


Sejak saat itu aku mulai diam dan malas memperhatikanya, walaupun sekedar memandang tak lagi ku lakukan, karna itu hanya membuatku semakin marah, “dasar anak kecil, masih kecil main suka-sukaan” pikirku geli. Semakin aku memikirkanya semakin aku malu dan ingin rasanya membuang jauh-jauh pikiran itu. Tapi apalah daya yang pertama selalu mengajarkan dasarnya, dasar bagaimana mengagumi seseorang dengan memandangnya lekat-lekat, dasar bagaimana rasanya mengharapkan kemudian patah, dan dasar bagaimana patahan tersebut tak dapat menemukan perekat lain selain dirinya.

suara yang sama

  • "Hai" sapanya ketika ku angkat panggilanya di ponsel ku, "hai" balasku dengan suara bergetar . " bagaimana kabarmu " suaranya terdengar lembut . " aku baik" ( tidak pernah sebaik ini sebelumnya, kataku dalam hati) . "Bagaimana dengan mu?" Aku berusaha menenangkan jantungku yang sedari tadi tak berhenti melompat . "Entah lah, aku bingung" jawabnya dgn nada sendu. Kenapa kau tidak merasa baik saat ini menjadi waktu terbaik bagiku, kata ku dalam hati "kenapa? Apakah ada masalah? Berbagi lah denganku" jawabku, aku benar-benar ingin menjadi tempat untuk mu berbagi. "Sesuatu yang aneh terjadi padaku sejak aku melihatmu beberapa waktu yang lalu..." ekh apa ini, apa maksud kata 'aneh' di kalimat yg dia ucpkan itu?? Tiba-tiba semua terdengar sunyi . " sejak saat itu aku terkadang memikirkan mu " Terkadang ????? Terkadang katamu? Aku bahkan belum berhenti memikirkan mu, belum bosan melihat melihat potret mu di layar ponsel ku, belum tau cara menghapus senyum yang membekukan mataku , aku belum bisa berhenti sejak beberapa tahun yang lalu ketika kau melempar senyum itu tepat di relungku . . Itu bukan waktu yang sebentar. Aku mengatur nafasku lagi. " apa maksud perkataan mu?" Aku benar2 tidak mengerti " aku juga, tapi tidak kah kau merasa aneh ketika melihatku?" Apa kau gila?!!! Bertahun-tahun aku merasa aneh hingga saat ini aku bahkan tidak mengerti apa itu. . "Entah lah, aku merasa aneh bahkan sejak beberapa tahun lalu" apa ini apa yang aku katakan? Aku pasti gila karna berkata jujur padanya. "Benarkah? Syukurlah,Aku sebenarnya sudah tahu itu dari sahabat baik kita, karna itu aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya padamu" . Apa kau pernah dilemparkan ke udara hingga kau dapat melihat ribuan bintang bersinar di dampingi pelangi yang melengkung kemudian jatuh dengan lembut di lautan bunga tulip yang indah? Aku juga belum pernah, tapi ini bahkan lebih dari itu. "Sesuatu yg indah itu sulit di katakan"

suara yang sama

Dalam heningku yang sejenak didepan hamparan rerumputan diserambi rumahku. Setelah mengela nafas penat kebosanan dihari-hari liburan smester ini. Aku mendengar deringan dari ponselku. Dering yang sangat mengejutkan batinku ketika aku melihat ukiran nama sang pelaku. Penyebab ponselku berdering.
"Hai" sapanya ketika ku angkat panggilanya di
ponsel ku. Jleb. Suara yang tidak asing. Masih sama seperti waktu itu.
"I-iya. Hai" balasku dengan suara bergetar .
"bagaimana kabarmu " tanyanya dengan lembut.
"aku. Ah. Aku baik." tidak pernah
sebaik ini sebelumnya bodoh.
"Kau? Bagaimana dengan mu?" Aku berusaha menenangkan diri. Karena saat secara perlahan, kata demi kata yang keluar dari bibir manisnya itu membuat dentuman organ pengatur darah berinisial jantung ini lebih cepat. ia mengatakan itu lagi. jantungku tidak, tidak. terlalu muda bagiku untuk mengidap stroke.
"Entah lah, aku bingung" jawabnya sendu. Aku ingin bertanya Kenapa kau tidak merasa baik saat ini seperti yang aku rasakan? Seperti halnya perang dunia yang berakhir dengan perdamaian dengan singkat. Tak akan terjadi perang dunia yang kedua. Hingga tak banyak yang perlu dicatat dalam sejarah karena dunia yang terlalu damai. namun nihil. Hanya bisa kuungkapkan dalam hati.
"kenapa? Apakah ada masalah? Berbagi lah denganku" saranku dengan norak. Padahal aku benar-benar ingin menjadi tempat sandaran untukmu berbagi. "Sesuatu yang aneh terjadi padaku sejak aku melihatmu beberapa waktu yang lalu..."
Aneh? apa maksud kata itu? Apa yang sedang dipikirkan anak ini? Tiba-tiba keheningan menerpa sejenak.
" sejak saat itu aku terkadang memikirkan mu " lanjutnya perlahan. Apa? Terkadang ????? Terkadang katamu? Aku bahkan belum berhenti memikirkanmu, belum bosan melihat melihat ukiran senyummu di layar ponsel ku, belum tau cara menghapus senyum yang membekukan mataku , aku belum bisa berhenti sejak beberapa tahun yang lalu ketika kau melempar senyum itu tepat direlungku. Itu bukan waktu yang sebentar. Aku mengatur nafasku lagi.
" apa maksud perkataan mu?" Aku benar2 tidak mengerti "
" aku juga, tapi tidak kah kau merasa aneh ketika melihatku?" pertnanyaanmu yang justru aneh. Apa kau gila?!!! Bertahun-tahun aku merasa aneh hingga saat ini aku bahkan tidak mengerti apa itu.
"Entah lah, aku juga merasa aneh bahkan sejak beberapa tahun lalu" paparku. Gawat! apa ini? apa yang aku katakan? Aku pasti gila karna terlalu lunak untuk berkata jujur padanya. "Benarkah? Syukurlah, Aku sebenarnya sudah tahu itu dari sahabat baik kita, karna itu aku mengumpulkan keberanian untuk menyapamu padamu. Kau baik-baik saja kan?" .
Hey bodoh! Apa kau pernah dilemparkan ke udara hingga kau dapat melihat ribuan bintang bersinar didampingi pelangi yang melengkung kemudian jatuh dengan lembut di lautan bunga tulip yang indah? Aku juga belum pernah, tapi ini bahkan lebih dari itu. Sesuatu yg indah itu sulit di katakan.

kau indahkan jejak ku

                        melangkah di atas jejak mu
                        buat ku dapat melihat secercah cahaya dari bola matamu
                        melihat rindu di ujung jalan
                       menatap derasnya air di tengah gurun....

berikan seribu harapan
di setiap jejak yg ku lukis di setiap tetes air mataku
indahkan hari ku dgn senyuman di wajah mu...
kau begitu indah

Bunga Kasih



Bunga Kasih

Ada sendu di balik senyum itu
Ada kasih yang tumbuh dari canda
Ada rindu yang menjalar dalam diam
Ada jiwa yang patah dalam sadarnya

Ketika aku mulai menyadari ada kasih di sela-sela tawa kecil
Ketika aku menyadari itu hanya akan menjadi bunga dalam mimpi dan duri dalam nyata
Ketika aku menyadari bahwa ternyata aku membiarkanya tumbuh dengan subur di dalam sana
Ketika itu aku yang ku temukan hanya sesal yang dalam

Semuanya terjadi begitu saja di dalam sana
Di dalam gumpalan daging yang seringkali menentukan hidup manusia
Yang sering kali menggiring bulir-bulir air keluar dari mata hingga membuatnya sayu
Yang tak jarang melebarkan senyum yang bahkan tak di fikirkan oleh otak

Aku menyesalinya..
Menyesal membiarkan  bunga kasih tumbuh di hamparan duri
Membiarkannya diam karna mati jika bergerak sedikit saja di antara duri-duri itu
Menyesal karna aku baru menyadari itu ketika duri mulai tumbuh di di batang bunga yang kecil itu
Menyesal karna aku menyadarinya setelah batang itu patah oleh duri

Terkadang kau baru menyadari bahwa kau jatuh cinta ketika hatimu sudah patah