Senin, 05 Oktober 2015

Because It's Just Me

Hi,!
Hello . . .
Good Night, for  anyone who reads this stuff.. hahaha
If you ever visited my blog and read some sucks writing thankyou! But i think i haven't introduced myself personally... ok. let me do it. it's just me, my name is Umi Ma'rifah, not a really good name but i'm so gratefull with it. im kinda ordinary girl with thousands dreams. One of my dream is being writer,  but i think i have not enough skill in writing, you can see it from my works. I really appreciate you who do not stop reading my works 'till the end of the story.

My favorite writer is Habiburahman el-shirazy. He is Indoneian writer, he wrote " ayat-ayat cinta" but trust me that's not my favorite one. my favorite one titled " Jangan biarkan surau ini roboh". that's such an awesome novel. It's kind of religy novel about moslem. There is love story that's very touched.

But his novels do not motivate me a lot to write. I have another writer. not a real writer that has his own novel. but im sure he will. he has nick name. and i used to call him "L". he's such a great awesome writer that motivate me a lot. he shows me his works and it's totally cool!.  He teaches me how to write and motivated me to write my real story. He never forces me to write like his style. he said i need to write my own story in my own style.. because i'm myself. I'm not him or another person. Another words that he ever told me is

 " Write your problem, then you will find your solution, do not worry how , just write and wait the miracle that will happen"

That's a nice word, after that i used to write everything about my problem and wait the miracle that will come after it. I would like to say thank you to him. Thank You!

Not only L, i have two online writers that are my favorite just like him that their works make me impressed. Their name is Akh Yar and Bagas, I have no idea about them except their works. Those writing just like a note in facebook but those are awesome. I never know about them and they never know about me too. but i always follow their note in facebook. But im little upset with Bagas Yudha Pratama because he seems like has a new girlfriend and it changes her style of writing becomes "alay" so i decided to move on, hehehe.

Okay..
now what else, i think about my life. i have no interesting story in my life. just like a common. i'm a student with not really high grade. i'm not beautiful, not rich. im ordinary. Because it's just me

Actually, tonight im in a bad mood.so, i am listening to a nice song. the title is " Amnesia" by 5 Second of Summer. it is a nice song, oh! how if i reflect this song to my life. hahah but promise me do not throw up while reading  it haahha.

"Amnesia"

[Calum:]
I drove by all the places we used to hang out getting wasted
I thought about our last kiss, how it felt, the way you tasted
And even though your friends tell me you're doing fine

 ( i was going no place with him. and kiss? are you kidding me? he does not even touches my hand. but for me. .  he kisses my heart every time. )

Are you somewhere feeling lonely even though he's right beside you?
When he says those words that hurt you, do you read the ones I wrote you?

Sometimes I start to wonder, was it just a lie?
If what we had was real, how could you be fine?

'Cause I'm not fine at all

( I always wonder about how you are. have you get someone beside you,? do you ever feel lonely? because i do. do you ever read my poem that i gave to you at that sweet time? because i'm still writing something about you. this is one of them. I really wonder was that smile just a lie? i do not think that was real because you seem fine after all of those smiles were gone.And Im not fine at all!!)

I remember the day you told me you were leaving
I remember the make-up running down your face
And the dreams you left behind you didn't need them
Like every single wish we ever made
I wish that I could wake up with amnesia
And forget about the stupid little things
Like the way it felt to fall asleep next to you
And the memories I never can escape

'Cause I'm not fine at all

( I fully remember the day you broke me up. I totally remember the tears that fell down to my pillow. Every single wish we ever made? you fuck it out of my hope list. I wish i really could wake up  with Amnesia and forget about those fucking stupid memories. 'Cause sometimes it hurts me a lot.)

[Calum:]
The pictures that you sent me they're still living in my phone
I'll admit I like to see them, I'll admit I feel alone
And all my friends keep asking why I'm not around

It hurts to know you're happy, yeah, it hurts that you've moved on
It's hard to hear your name when I haven't seen you in so long

It's like we never happened, was it just a lie?
If what we had was real, how could you be fine?

'Cause I'm not fine at all


( Your picture? i remembered that i kept those pictures in secrete folder and i never see it. just trust me. but i have no power  to delete it away. and i admit it i feel alone sometimes. you have moved on. that's good for you. congratulation!. of course It is hard to hear your name when i can't see you forever. And how could you be fine?)

Ok. stop it.. fyuuh.. 


That was a crazy talk right? hahha i don't care at all. i just write what i wanna write and read what i wanna read. i wish you all would like to read it with your heart not your eyes. :)

Thank You :)
See You in another crazy talk.

Selasa, 16 Juni 2015

Five Seconds Journey :)



Ini adalah petualangan 5 detikku

Entah bagai mana caraku menjelaskan situasinya. Tidak terlalu jelas tergambar di sana. Tempat, waktu, cuaca, semuanya samar, hanya paras mu yang terlihat jelas. Tuhan, baik sekali mengizinkan aku melihat wajah itu dengan jelas. Meski hanya wajahnya saja. Masih sama, yah dengan hidung itu, mata itu, bibir, itu. semuanya sama, yang paling indah adalah senyum dan caranya memandanku, bahkan di kehidupan nyata aku belum pernah melihat yang seperti itu darinya. Tidak ada kata yang terucap dari bibir manisnya. Tidak satu katapun. Meski aku rindu nada suaranya, melodi kata-katanya, dan yang paling indah adalah irama tahfidz-nya yang dulu mampu meluluhkan seluruh lapisan dalam diriku. Melody yang sama dengan Ziyad Patel, reciter favoritnya, seringkali menerbangkanku ke angkasa cinta melalui surah Ar-Rahman favoritku. Hal yang paling aku rindukan. Seringkali aku bermimpi suatu saat nanti ada yang seseorang melamarku dengan mahar bacaan surah Ar-rahman. Apa ini berlebihan? Selalu ada yang lebih dalam impian seseorang.
Tiba-tiba dia duduk di sampingku, tidak berkata-kata, hanya saling membisu, hanya aku saja yang tersenyu-senyum kegirangan, aku tidak berani melihat wajahnya. Aku menggantungkan lenganku di sisi kursi yang entah bagaimana bentuknya dan entah di galaksi mana aku berada. Tiba-tiba saja ada lengan lain yang menggantung di sana dan menyentuh tipis lenganku. Dunia mimpi memang gila, menciptakan hal yang mustahil di dunia nyata menjadi kenyataan. Namun Indah sekali. Galaksi yang akrab dengan pikiran manusia itu menawarkan sejuta keindahan dengan segala kenyataan yang fana. Dan menarik setiap pengunjungnya untuk tinggal di dalamnya. Ruang tawa dan segala kebahagianya atau ruang gulita yang menciptakan ketakutan tanpa ampun di dalamnya. Hanya 5 detik katanya durasi kita berpetualang di sana, cendikiawan handal yang berkata. Seperti halnya aku yang tak sengaja melangkahkan kaki ke ruang tawa, dimana setiap sisi terlihat samar dan hanya wajah mu saja yang memancarkan cahaya sehingga membuatnya jelas terlihat di mataku, membuatku lupa di belahan dunia mana aku berada dan hanya berfikir untuk tinggal di sana. Tapi kemudian semuanya sirna seketika. Ah! Terlalu singkat rasanya. Aku menginginkan detik yang lain, tapi ah, sudahlah. Karena ternyata sang subuh sudah menggema menjemputku pulang ke dunia nyata, beruntunglah aku karna bisa saja aku terlena terlalu lama di sana. Terimakasih untuk petualangan indah yang mungkin tanpa makna.

Kamis, 04 Juni 2015

MAGICALLY HAPPEN



Part 2,
The Step that  I Cant Take Back
            Ini adalah awal langkahku.
Pagi itu, 22 april 2015. Saat sang surya yang menaklukan sang gulita malam mulai menyapa dengan hangatanya, dan sang malam yang mulai jemu bertemankan sunyi, mulai menyingkir dari hadapan fajar. Dan saat itu aku memutuskan untuk memulai langkahku. “ Kurnia, bisa kau ajari aku mengenakan hijab yang sedikit lebar sepertimu?” Kurnia mengerutkan dahinya seolah Ia melihat malam menampakkan mulutnya, dan ada aku di dalamnya. ANEH!!. Ya itulah yang tergambar di wajah dan fikiranya saat itu. “mba? Mba umi kenapa?” dia menanyakan hal yang sama  dengan apa yang aku tanyakan pada diriku sendiri. “ aku serius! Sudahlah jangan banyak bertanya ajari saja aku”  kemudian dia memakaikan ku hijab yang panjang dan lebar meskipun belum sesuai dengan apa yang tertulis di Al-qur’an tapi ini sudah cukup lebar bagiku. Kemudian aku memandangi seseorang yang terpantul di cermin dan berkata pada diriku sendiri “ bismillahirahmanirahim, ya Allah mudahkanlah jalanmu, aku memulai hal kecil yang seharusnya kulakukan sejak dulu” ingin rasanya aku menangis saat itu, entah kata apa yang cocok untuk menjelaskanya. Tapi karena aku malu, aku membuang pikiran melankolis itu dan mengamati wajahku. Lima kata yang muncul ketika aku mengamati diriku mengenakan hijab lebar berwarna biru itu, “ternyata kau memang tidak cantik” , ah, lucu rasanya menyadari hal itu. Bukan hanya aku Kurnia pun tertawa melihat penampilan baruku, kemudian Ia berkata “ mba Umi cantik sekali, aku tertawa karna bahagia bukan menertawakan mba Umi” begitu katanya, ah mungkin dia hanya melakukan kebohongan yang menyenangkan. Satu hal yang benar-benar membuatku bahagia “ ya Allah, aku benar-benar melakukanya, dan ini benar-benar nyaman”. Seperti menemukan buku yang bagus, aku mulai membuka lembaran pertamaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kampus setelah ini. Mereka mungkin meneriaki aku karna mengira aku orang asing, atau yang lebih parah lagi mereka akan memukul kepalaku karena mengira aku gagar otak. Apapun itu terserah.
           
Hari pertama, aku  masuk ke dalam kelas sempit yang hanya dapat menampung 40 mahasiswa, dengan satu pendingin ruangan/ac, sehingga sulit membedakan antara tempat penampungan dan ruang belajar.dengan langkah berat saya melangkah melewati pintu dan terlihat beberapa orang yang sudah berada di dalam kelas akan tetapi mereka  sibuk mengusap-usap layar ponsel mereka. Tidak suara. Ya, begitulah cara teknologi membisukan mereka yang berbicara dan menulikan mereka yang mendengar.  Aku melangkah perlahan, mengintip dan kemudia mengucap salam. Mereka yang sedang sibuk kemudian menatapku dan terdiam sejenak, tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak “ Umiiiiiiiiii!!!!!!!!!” Fiska namanya,  sahabat dekatku, aku menutup mukaku karena malu kemudian yang lain mulai bertanya-tanya “ itu Umi? Gue kira mba mba BBQ”. Ternyata prediksiku salah, bukanya mengusirku atau memukul kepalaku, malah menghujaniku dengan pertanyaan yang sama “ lu mimpi apa mi semalem jadi begini?” aku hanya tersenyum dan berkata “ Magically happen guys!” mereka tertawa dan memandangiku lama sekali, mungkin mereka berfikir bahwa aku baru kembali setelah tersesat karena di telan oleh malam dan sebenarnya mereka juga tahu bahwa malam tidak memiliki mulut. Terasa agak berlebihan memang.
            Hari pertama hingga tujuh hari setelahnya berjalan lancar dan mendapatkan banyak kata “subhanallah” dari teman-teman di kampusku. Ketika mereka semua mengatakan kata  itu pada ku, aku hanya berkata dalam hati “ lihat bu, pa, semua orang bahagia dengan perubahanku, aku harap aku bisa menulis cerita bahagia setelah ini”. Pikiran-pikiran ku tentang orang tuaku terus saja terombang-ambing di tengah pikiran yang lain. Hingga tiba saat dimana aku akan menceritakan hal ini pada orang tuaku. Aku berencana akan mengatakan ini ketika aku pulang kerumah, aku sudah menyiapkan naskah dialog di dalam otaku, aku sudah mempersiapkan jawaban untuk alasan bla-bla-bla kolot yang selalu mereka gunakan. Akan tetapi aku mengubah rencanaku dan memilih untuk menghubungi mereka lewat telephone “ Bu aku ingin menceritakan sesuatu, tapi ibu harus berjanji untuk tidak marah padaku “iya iu janji” aku menarik nafas panjang dan berdoa dalam hati sebelum memulai percakapan yang munkin akan berahir menjadi perang dingin ini. “ sebenarnya aku sekarang sudah sedikit berubah” kataku mengawali cerita “berubah bagaimana maksudmu?” nada suaranya mulai terdengar aneh. “ sudah hampir satu minggu ini aku mencobanya, maksudku,.. mencoba mengenakan hijab yang lebih panjang dari yang biasa aku kenakan” jantungku mulai berderu tak karuan menunggu reaksi ibuku “ hijab besar? Kenapa?” nada suaranya mulai menunjukan bahwa ada api yang siap menyambar gendang teingaku sebentar lagi “ entah lah itu terjadi begitu saja, tiba-tiba aku benar-benar malu melihat diriku mengenakan hijab pendek yang biasa aku kenakan.” Aaaarrrggghhh!!! aku tau ini akan gagal.. terserah!toh aku sudah tahu konskuensi ini. “ ibu tidak mengerti, kenapa kamu berubah, untuk menjadi orang yang baik tidak harus dengan mengenakan hijab panjang dan lebar seperti itu...” ah! Alasan kolot itu menunjukan kehadiaranya kembali “ kamu ini kenapa nak, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini.. kamu tidak perlu berubah sebanyak itu, jadi lah anakku yang seperti biasa, seperti kemarin-kemarin” tidak!! Kali ini suara ayahku, nada bicaranya yang selalu lembut semua orang itu terdengar lebih mengerikan dari suara ibuku yang selalu menggunakan nada tinggi. “ kenapa?? Apa yang salah? Karena aku ini anak kalian, orang tuaku, aku ingin menjadi berbeda aku tidak mau menjadi orang yang sama dengan orang lain, bukankah ini kemajuan?” tidak terbendung lagi kata-kataku mengalir bersamaan dengan tetesan air dari mataku, dan tak dapat si elakkan lagi, suaraku pun terdengar pilu di telingaku. “ sudahlah fa, jangan menangis lagi, aku paling tidak bisa mendengarmu menagis” suara ayahku pun terdengar bergetar. Ahh!! Bagaimana ini? Apakah keputusanku benar? Aaa!!!. Aku mulai bimbang dengan keputusanku kemudian aku matikan panggilanku tanpa salam. Karna aku tahu, aku tidak akan mampu bersuara lagi. Aku mengirim pesan kepada orang tuaku bahwa pulsa ku sudah tidak mencukupi sebagai alasanku. Akan tetapi aku mendapat taggapan berbeda. Ibuku membalas pesanku dengan amunisi tajam berbentuk kata-kata.
“ibu tidak tahu apa yang terjadi disana, ibu tidak tahu organisasi apa yang kamu ikuti disana bahkan jika kamu mengikuti ISIS ibu juga tidak tahu, kami memang bukan orang tua yang baik, kami bodoh dan tidak tahu apa-apa. Tapi yang kami tahu, baik atau tidaknya seseorang bukan dinilai dari ukuran jilbabmu tapi perilakumu”
Amunisi itu menghancurkan sisa-sisa ketegaranku. Akan tetapi, aku sudan melangkah ke jalan yang mana tidak bisa aku tarik kembali. Aku sudah menorehkan tinta di lembar pertama buku yang di berikan langit untuk ku, dimana tidak ada penghapus yang mampu menghapuskan goresan tinta yang aku torehkan dengan kesungguhan hati untuknya. Apapun yang terjadi aku telah memulai langkahku di garis yang Tuhan serukan padaku.

Sabtu, 23 Mei 2015

MAGICALLY HAPPEN



MAGICALLY HAPPEN

PART 1
Malam itu, 18 april 2015, ketika semuanya berawal. Tidak ada hujan terlebih petir malam itu. Hanya langit yang semakin gelap, bulan yang mulai menyempurnakan bentuknya, dan ribuan rasi bintang yang membentuk ornamen-ornamen indah di langit. Terdengar suara perbincangan para penghuni rusunawa yang bercengkrama di lantai dasar. Aku berada di lantai tiga, cukup tinggi untuk sekedar melihat lalu-lalang pesawat yang melintas di udara. Cukup tinggi pula untuk melihat kilauan lampu jalan dan gedung di Bandar Lampung pada malam hari. Kedua temanku tengah sibuk dengan kertas dan tulisan yang tercetak di atasnya. Sedangkan aku? Tidak ada yang ku kerjakan selain mengusap-usap layar ponsel ku dan berjalan-jalan di dunia maya. “ ah! Ini dia foto yang ku cari”  tampak gambar dua perempuan yang bergaya “duck face” terpampang di layar ponselku. Mereka adalah aku dan Kurnia, teman sekamarku. Kurnia adalah adik tingkat ku jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas yang sama denganku. Dia merupakan seorang akhwat dengn hijabnya yang lebar, yah biasa di sebut syar’i. Akhwat, ah! Sial aku seringkali di panggil ikhwit oleh temanku karena ukuran hijabku yang kecil. “ kau belum pantas di sebut Akhwat, lihatlah kain yang hanya menutupi rambut dan lehermu itu, kau lebih pantas di sebut ikhwit” begitu katanya, tapi aku tidak peduli pada waktu itu, aku hanya diam ketika dia mengatakan hal itu. Di foto tersebut tampak aku mengenakan jilbab biru polos yang pendek sebatas lengan dan kemeja kotak-kotak berwarna biru. Sedangkan Kurnia, ia mengenakan baju dan kerudung berwarna merah yang panjang dan lebar, hingga hanya tampak pergelangan tangannya saja. Aku memasang foto itu sebagai display picture di aplikasi BBM ku. Aku memandangi foto itu lama sekali, tidak seperti biasanya, entah apa yang aku pikirkan saat itu, hanya saja ada yang aneh dengan foto itu. “ hey! Apa kau bodoh? Tidak tahu malu? Lihatlah dirimu, sangat bangga mengenakan pakaian yang tidak sepantasnya kau kenakan! Lihatlah Kurnia ! tidakkah dia lebih anggun dengan kain lebar nan panjang itu?” aarrgghhh! Apa ini kenapa ada makian di kepalaku?. Kemudian aku langsung mengubah display picture ku dengan gambar animasi.
Aku terus memikirkan hal itu sepanjang malam. Kenapa aku tidak mencobanya? Ah! Tapi orangtua ku tidak akan setuju. Mereka pasti menolak ini, aku sudah pernah mencobanya dua kali sebelum ini. “ jangan karena kamu bergaul dengan anak-anak yang mengenakan hijab syar’i kamu jadi ikut-ikutan, jadilah dirimu sendiri, kamu itu masih labil, bla-bla-bla” alasan kolot itu ahirnya mematahkan niatku. Ketika itu aku masih duduk di bangku smp.
 Kedua kalinya ketika aku bertemu dengan seseorang yang terus menceramahiku dan menyuapiku dengan hadist-hadist tentang wanita muslim. Dia juga memberiku buku tentang hijab berjudul “Samudra Hikmah di Balik Jilbab Muslimah” buku itu cukup membuka pemikiranku tentang wanita muslim dan juga menumbuhkan niatku untuk memulainya kembali, ya, mencoba untuk meraih izin berhijab. Ya, dia adalah orang yang selalu memanggilku ikhwit. Ketika itu aku mengatakan niatanku untuk mulai berhijab pada kedua orangtua ku akan tetapi jawaban yang sama masuk ketelingaku seperti halnya buku bergambar yang kehilangan pensil warnanya. aku marah pada diriku sendiri, karena aku tidak bisa marah dengan mereka.Selain itu ada kalimat tambahan yang benar-benar membuatku marah pada diriku sendiri. “jangan karena kamu dipengaruhi teman-temanmu, kamu terpengaruh menuruti perkataanya, kamu harus jadi diri kamu sendiri” aaarrrgghh! Apa kalian pikir aku segila itu, melakukan sesuatu hanya karena orang lain mengatakan agar aku melakukanya?? Aku meikirkan hal ini sebelumnya. Aku melakukan ini karena ahirnya aku tahu seperti apa seharusnya wanita muslim berpakaian. Memang merekalah yang memberitahuku hal itu, lalu apa yang salah?. Kalian yang kolot, kalian yang membutakan mata kalian dari kebenaran dan hanya melihat gemerlap lampu bernama “modern” yang seolah terang dan indah padahal itu adalah api yang membara dari kejauhan, dan kalian mengajaku untuk terus mendekat ke arahnya. Kapan kalian akan menganggapku dewasa!!.” Andai aku bisa mengatakan hal itu pada mereka. Kalimat-kalimat itu hanya beterbangan di kepalaku saja.
Kali ini adalah kali ketiga aku berniat untuk benar-benar berubah, namun aku tidak mau lemah dan kalah dengan perkataan orang tuaku seperti niat-niatku sebelumnya.

Kamis, 12 Maret 2015

JUST FOR LAURA HE LIVED AND DIED

JUST FOR LAURA HE LIVED AND DIED
This is the true love story between Tommy and Laura.
Tommy and Laura were a couple who lived in Dunsmuir, California. Laura is the most beautiful girl in the town. Her long and blonde hair make her looked graceful. She was a teacher for poor students in her village and she didn’t asked the payment for it. Beautiful face and charming smile made the men in her town fell in love with her, but her love was just for Tommy. Tommy was ordinary man with extraordinary heart. Tommy was a farmer, he was not a rich man but he is very kind. He was always handing out food to poor children in the town.
Tommy and Laura met in a hut where laura taught children and they were falling in love. Laura and Tommy had been in a relationship for 5 years, they were loving each other. Tommy wanted to give everything for laura, such as flowers, present, and most of all, the weeding ring, because he loved laura more than himself. Tommy wanted to marry Laura with the heart and crowd on the top of the ring. Because Tommy wanted give his whole heart and made Laura as a queen there.
Tommy looked for that ring in the marked but he couldn’t find the ring with the heart and crowd in the top. Then, he asked to the jeweler “ excuse me sir, do you have a ring with crowd and heart on the top?” “like this one?” the jeweler took the ring from the small box and showed it to Tommy. Tommy was very happy because he found the ring that he looked for. Tommy wanted to buy the ring for Laura, “what the price of this ring?” Tommy asked. The jeweler took the ring from Tommy’s hand and said “ this is a special ring because the heart and crowd on the top make it looks more luxurious so, the price little more expensive, its about a thousand dollar” Tommy was sad because he did not have that much money. Then, he said to the jeweler to keep that ring for him.
Tommy left with feeling confused, suddenly when he was walking He saw a sign for a stock car race and and the prize were thousand dollar, tommy was very happy and then he called laura on the phone but her mother answered the call and said that laura was teaching the children at that time. Then tommy asked to her mother to conveyed Tommy’s words “ please, Tell Laura I love her, tell Laura I need her, tell Laura I may be late, I've something to do, That cannot wait.”
He drove his car to the racing grounds and he felt very nervous because he was the youngest driver there, but he just thought about the ring and laura. After all of driver was ready, the race was started. Around the track they drove at a deadly pace, but tommy couldn't control his car and he was thrown out from the track. No one knew what happened that day, how his car overturned in flames, But as they pulled him from the twisted wreck, With his dying breath, they heard him say “Tell Laura I love her, tell Laura I need her, tell Laura not to cry, my love for her will never die” then Tommy immediately died. The people who heard his last words were compassionate, because in his last breath he just remembered his girl and said that he loved her.
Laura was shocked after hearing the news of the death of Tommy and she cried like rain a day she was very sad and couldn’t believed that Tommy left her soon. The people who helped Tommy from the accident told her the last words of Tommy and laura fainted after hearing the words.
Two days later the jeweler came to the laura’s house and he found laura was not in a good condition. Laura asked  him who was him and why  he came to laura’s house, then the jeweler told the story about Tommy and the ring. Laura was cried again because she knew how Tommy was loving her. When laura was cried as the jeweler gave the ring to Laura as a gift from Tommy, although tommy has not had time to bought it.
After that,  Laura went to the chapel with the ring and prayed for Tommy who passed away with tears on her cheeks, she knew that just for Laura he lived and died. Laura very loved him and she prayed hopefully for Tommy’s happiness in the heaven. Suddenly, in the middle of Laura’s prayer, she heard the familiar voice, it was Tommy’s voice and he said “ tell Laura I love her, tell Laura I need her, tell Laura not to cry, my love for her will never die, tell Laura I love he.” Laura cried uncontrollably when she was hearing the voice.
That was a tragic story about true love, true love will never die, even one of them had died but his love is still alive.


"Love is not about wealth but, loyalty"

di angkat dari lagu " Tell Laura I Love Her" - Ray Peterson