Kamis, 04 Juni 2015

MAGICALLY HAPPEN



Part 2,
The Step that  I Cant Take Back
            Ini adalah awal langkahku.
Pagi itu, 22 april 2015. Saat sang surya yang menaklukan sang gulita malam mulai menyapa dengan hangatanya, dan sang malam yang mulai jemu bertemankan sunyi, mulai menyingkir dari hadapan fajar. Dan saat itu aku memutuskan untuk memulai langkahku. “ Kurnia, bisa kau ajari aku mengenakan hijab yang sedikit lebar sepertimu?” Kurnia mengerutkan dahinya seolah Ia melihat malam menampakkan mulutnya, dan ada aku di dalamnya. ANEH!!. Ya itulah yang tergambar di wajah dan fikiranya saat itu. “mba? Mba umi kenapa?” dia menanyakan hal yang sama  dengan apa yang aku tanyakan pada diriku sendiri. “ aku serius! Sudahlah jangan banyak bertanya ajari saja aku”  kemudian dia memakaikan ku hijab yang panjang dan lebar meskipun belum sesuai dengan apa yang tertulis di Al-qur’an tapi ini sudah cukup lebar bagiku. Kemudian aku memandangi seseorang yang terpantul di cermin dan berkata pada diriku sendiri “ bismillahirahmanirahim, ya Allah mudahkanlah jalanmu, aku memulai hal kecil yang seharusnya kulakukan sejak dulu” ingin rasanya aku menangis saat itu, entah kata apa yang cocok untuk menjelaskanya. Tapi karena aku malu, aku membuang pikiran melankolis itu dan mengamati wajahku. Lima kata yang muncul ketika aku mengamati diriku mengenakan hijab lebar berwarna biru itu, “ternyata kau memang tidak cantik” , ah, lucu rasanya menyadari hal itu. Bukan hanya aku Kurnia pun tertawa melihat penampilan baruku, kemudian Ia berkata “ mba Umi cantik sekali, aku tertawa karna bahagia bukan menertawakan mba Umi” begitu katanya, ah mungkin dia hanya melakukan kebohongan yang menyenangkan. Satu hal yang benar-benar membuatku bahagia “ ya Allah, aku benar-benar melakukanya, dan ini benar-benar nyaman”. Seperti menemukan buku yang bagus, aku mulai membuka lembaran pertamaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kampus setelah ini. Mereka mungkin meneriaki aku karna mengira aku orang asing, atau yang lebih parah lagi mereka akan memukul kepalaku karena mengira aku gagar otak. Apapun itu terserah.
           
Hari pertama, aku  masuk ke dalam kelas sempit yang hanya dapat menampung 40 mahasiswa, dengan satu pendingin ruangan/ac, sehingga sulit membedakan antara tempat penampungan dan ruang belajar.dengan langkah berat saya melangkah melewati pintu dan terlihat beberapa orang yang sudah berada di dalam kelas akan tetapi mereka  sibuk mengusap-usap layar ponsel mereka. Tidak suara. Ya, begitulah cara teknologi membisukan mereka yang berbicara dan menulikan mereka yang mendengar.  Aku melangkah perlahan, mengintip dan kemudia mengucap salam. Mereka yang sedang sibuk kemudian menatapku dan terdiam sejenak, tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak “ Umiiiiiiiiii!!!!!!!!!” Fiska namanya,  sahabat dekatku, aku menutup mukaku karena malu kemudian yang lain mulai bertanya-tanya “ itu Umi? Gue kira mba mba BBQ”. Ternyata prediksiku salah, bukanya mengusirku atau memukul kepalaku, malah menghujaniku dengan pertanyaan yang sama “ lu mimpi apa mi semalem jadi begini?” aku hanya tersenyum dan berkata “ Magically happen guys!” mereka tertawa dan memandangiku lama sekali, mungkin mereka berfikir bahwa aku baru kembali setelah tersesat karena di telan oleh malam dan sebenarnya mereka juga tahu bahwa malam tidak memiliki mulut. Terasa agak berlebihan memang.
            Hari pertama hingga tujuh hari setelahnya berjalan lancar dan mendapatkan banyak kata “subhanallah” dari teman-teman di kampusku. Ketika mereka semua mengatakan kata  itu pada ku, aku hanya berkata dalam hati “ lihat bu, pa, semua orang bahagia dengan perubahanku, aku harap aku bisa menulis cerita bahagia setelah ini”. Pikiran-pikiran ku tentang orang tuaku terus saja terombang-ambing di tengah pikiran yang lain. Hingga tiba saat dimana aku akan menceritakan hal ini pada orang tuaku. Aku berencana akan mengatakan ini ketika aku pulang kerumah, aku sudah menyiapkan naskah dialog di dalam otaku, aku sudah mempersiapkan jawaban untuk alasan bla-bla-bla kolot yang selalu mereka gunakan. Akan tetapi aku mengubah rencanaku dan memilih untuk menghubungi mereka lewat telephone “ Bu aku ingin menceritakan sesuatu, tapi ibu harus berjanji untuk tidak marah padaku “iya iu janji” aku menarik nafas panjang dan berdoa dalam hati sebelum memulai percakapan yang munkin akan berahir menjadi perang dingin ini. “ sebenarnya aku sekarang sudah sedikit berubah” kataku mengawali cerita “berubah bagaimana maksudmu?” nada suaranya mulai terdengar aneh. “ sudah hampir satu minggu ini aku mencobanya, maksudku,.. mencoba mengenakan hijab yang lebih panjang dari yang biasa aku kenakan” jantungku mulai berderu tak karuan menunggu reaksi ibuku “ hijab besar? Kenapa?” nada suaranya mulai menunjukan bahwa ada api yang siap menyambar gendang teingaku sebentar lagi “ entah lah itu terjadi begitu saja, tiba-tiba aku benar-benar malu melihat diriku mengenakan hijab pendek yang biasa aku kenakan.” Aaaarrrggghhh!!! aku tau ini akan gagal.. terserah!toh aku sudah tahu konskuensi ini. “ ibu tidak mengerti, kenapa kamu berubah, untuk menjadi orang yang baik tidak harus dengan mengenakan hijab panjang dan lebar seperti itu...” ah! Alasan kolot itu menunjukan kehadiaranya kembali “ kamu ini kenapa nak, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini.. kamu tidak perlu berubah sebanyak itu, jadi lah anakku yang seperti biasa, seperti kemarin-kemarin” tidak!! Kali ini suara ayahku, nada bicaranya yang selalu lembut semua orang itu terdengar lebih mengerikan dari suara ibuku yang selalu menggunakan nada tinggi. “ kenapa?? Apa yang salah? Karena aku ini anak kalian, orang tuaku, aku ingin menjadi berbeda aku tidak mau menjadi orang yang sama dengan orang lain, bukankah ini kemajuan?” tidak terbendung lagi kata-kataku mengalir bersamaan dengan tetesan air dari mataku, dan tak dapat si elakkan lagi, suaraku pun terdengar pilu di telingaku. “ sudahlah fa, jangan menangis lagi, aku paling tidak bisa mendengarmu menagis” suara ayahku pun terdengar bergetar. Ahh!! Bagaimana ini? Apakah keputusanku benar? Aaa!!!. Aku mulai bimbang dengan keputusanku kemudian aku matikan panggilanku tanpa salam. Karna aku tahu, aku tidak akan mampu bersuara lagi. Aku mengirim pesan kepada orang tuaku bahwa pulsa ku sudah tidak mencukupi sebagai alasanku. Akan tetapi aku mendapat taggapan berbeda. Ibuku membalas pesanku dengan amunisi tajam berbentuk kata-kata.
“ibu tidak tahu apa yang terjadi disana, ibu tidak tahu organisasi apa yang kamu ikuti disana bahkan jika kamu mengikuti ISIS ibu juga tidak tahu, kami memang bukan orang tua yang baik, kami bodoh dan tidak tahu apa-apa. Tapi yang kami tahu, baik atau tidaknya seseorang bukan dinilai dari ukuran jilbabmu tapi perilakumu”
Amunisi itu menghancurkan sisa-sisa ketegaranku. Akan tetapi, aku sudan melangkah ke jalan yang mana tidak bisa aku tarik kembali. Aku sudah menorehkan tinta di lembar pertama buku yang di berikan langit untuk ku, dimana tidak ada penghapus yang mampu menghapuskan goresan tinta yang aku torehkan dengan kesungguhan hati untuknya. Apapun yang terjadi aku telah memulai langkahku di garis yang Tuhan serukan padaku.

3 komentar:

  1. Magically happen
    Nice story,
    jadi terharu agashi,,
    Allah selalu merencanakan yang terbaik…
    Semoga menjadi umi yang lebih baik…amin
    Love u so much.

    BalasHapus
  2. besarnya jilbab memang bukan menjadi sebuah tolak ukur kebaikan seseorang, tapi jadikan lah itu untuk menjadikan mu lebih baik

    BalasHapus
  3. besarnya jilbab memang bukan menjadi sebuah tolak ukur kebaikan seseorang, tapi jadikan lah itu untuk menjadikan mu lebih baik

    BalasHapus