Part 2,
The Step that
I Cant Take Back
Ini adalah awal langkahku.
Pagi
itu, 22 april 2015. Saat sang surya yang menaklukan sang gulita malam mulai
menyapa dengan hangatanya, dan sang malam yang mulai jemu bertemankan sunyi,
mulai menyingkir dari hadapan fajar. Dan saat itu aku memutuskan untuk memulai
langkahku. “ Kurnia, bisa kau ajari aku mengenakan hijab yang sedikit lebar
sepertimu?” Kurnia mengerutkan dahinya seolah Ia melihat malam menampakkan
mulutnya, dan ada aku di dalamnya. ANEH!!. Ya itulah yang tergambar di wajah
dan fikiranya saat itu. “mba? Mba umi kenapa?” dia menanyakan hal yang
sama dengan apa yang aku tanyakan pada
diriku sendiri. “ aku serius! Sudahlah jangan banyak bertanya ajari saja
aku” kemudian dia memakaikan ku hijab
yang panjang dan lebar meskipun belum sesuai dengan apa yang tertulis di
Al-qur’an tapi ini sudah cukup lebar bagiku. Kemudian aku memandangi seseorang
yang terpantul di cermin dan berkata pada diriku sendiri “ bismillahirahmanirahim,
ya Allah mudahkanlah jalanmu, aku memulai hal kecil yang seharusnya kulakukan
sejak dulu” ingin rasanya aku menangis saat itu, entah kata apa yang cocok
untuk menjelaskanya. Tapi karena aku malu, aku membuang pikiran melankolis itu
dan mengamati wajahku. Lima kata yang muncul ketika aku mengamati diriku
mengenakan hijab lebar berwarna biru itu, “ternyata kau memang tidak cantik” ,
ah, lucu rasanya menyadari hal itu. Bukan hanya aku Kurnia pun tertawa melihat
penampilan baruku, kemudian Ia berkata “ mba Umi cantik sekali, aku tertawa
karna bahagia bukan menertawakan mba Umi” begitu katanya, ah mungkin dia hanya
melakukan kebohongan yang menyenangkan. Satu hal yang benar-benar membuatku
bahagia “ ya Allah, aku benar-benar melakukanya, dan ini benar-benar nyaman”.
Seperti menemukan buku yang bagus, aku mulai membuka lembaran pertamaku. Aku
tidak tahu apa yang akan terjadi di kampus setelah ini. Mereka mungkin
meneriaki aku karna mengira aku orang asing, atau yang lebih parah lagi mereka akan
memukul kepalaku karena mengira aku gagar otak. Apapun itu terserah.
Hari
pertama, aku masuk ke dalam kelas sempit
yang hanya dapat menampung 40 mahasiswa, dengan satu pendingin ruangan/ac,
sehingga sulit membedakan antara tempat penampungan dan ruang belajar.dengan
langkah berat saya melangkah melewati pintu dan terlihat beberapa orang yang
sudah berada di dalam kelas akan tetapi mereka sibuk mengusap-usap layar ponsel mereka. Tidak
suara. Ya, begitulah cara teknologi membisukan mereka yang berbicara dan
menulikan mereka yang mendengar. Aku
melangkah perlahan, mengintip dan kemudia mengucap salam. Mereka yang sedang
sibuk kemudian menatapku dan terdiam sejenak, tiba-tiba salah seorang dari
mereka berteriak “ Umiiiiiiiiii!!!!!!!!!” Fiska namanya, sahabat dekatku, aku menutup mukaku karena
malu kemudian yang lain mulai bertanya-tanya “ itu Umi? Gue kira mba mba BBQ”.
Ternyata prediksiku salah, bukanya mengusirku atau memukul kepalaku, malah
menghujaniku dengan pertanyaan yang sama “ lu mimpi apa mi semalem jadi
begini?” aku hanya tersenyum dan berkata “ Magically happen guys!” mereka
tertawa dan memandangiku lama sekali, mungkin mereka berfikir bahwa aku baru
kembali setelah tersesat karena di telan oleh malam dan sebenarnya mereka juga
tahu bahwa malam tidak memiliki mulut. Terasa agak berlebihan memang.
Hari pertama hingga tujuh hari
setelahnya berjalan lancar dan mendapatkan banyak kata “subhanallah” dari teman-teman
di kampusku. Ketika mereka semua mengatakan kata itu pada ku, aku hanya berkata dalam hati “
lihat bu, pa, semua orang bahagia dengan perubahanku, aku harap aku bisa
menulis cerita bahagia setelah ini”. Pikiran-pikiran ku tentang orang tuaku
terus saja terombang-ambing di tengah pikiran yang lain. Hingga tiba saat
dimana aku akan menceritakan hal ini pada orang tuaku. Aku berencana akan
mengatakan ini ketika aku pulang kerumah, aku sudah menyiapkan naskah dialog di
dalam otaku, aku sudah mempersiapkan jawaban untuk alasan bla-bla-bla kolot
yang selalu mereka gunakan. Akan tetapi aku mengubah rencanaku dan memilih
untuk menghubungi mereka lewat telephone “ Bu aku ingin menceritakan sesuatu,
tapi ibu harus berjanji untuk tidak marah padaku “iya iu janji” aku menarik
nafas panjang dan berdoa dalam hati sebelum memulai percakapan yang munkin akan
berahir menjadi perang dingin ini. “ sebenarnya aku sekarang sudah sedikit
berubah” kataku mengawali cerita “berubah bagaimana maksudmu?” nada suaranya
mulai terdengar aneh. “ sudah hampir satu minggu ini aku mencobanya, maksudku,..
mencoba mengenakan hijab yang lebih panjang dari yang biasa aku kenakan”
jantungku mulai berderu tak karuan menunggu reaksi ibuku “ hijab besar? Kenapa?”
nada suaranya mulai menunjukan bahwa ada api yang siap menyambar gendang
teingaku sebentar lagi “ entah lah itu terjadi begitu saja, tiba-tiba aku
benar-benar malu melihat diriku mengenakan hijab pendek yang biasa aku kenakan.”
Aaaarrrggghhh!!! aku tau ini akan gagal.. terserah!toh aku sudah tahu
konskuensi ini. “ ibu tidak mengerti, kenapa kamu berubah, untuk menjadi orang
yang baik tidak harus dengan mengenakan hijab panjang dan lebar seperti itu...”
ah! Alasan kolot itu menunjukan kehadiaranya kembali “ kamu ini kenapa nak, kenapa
tiba-tiba jadi seperti ini.. kamu tidak perlu berubah sebanyak itu, jadi lah
anakku yang seperti biasa, seperti kemarin-kemarin” tidak!! Kali ini suara
ayahku, nada bicaranya yang selalu lembut semua orang itu terdengar lebih
mengerikan dari suara ibuku yang selalu menggunakan nada tinggi. “ kenapa?? Apa
yang salah? Karena aku ini anak kalian, orang tuaku, aku ingin menjadi berbeda
aku tidak mau menjadi orang yang sama dengan orang lain, bukankah ini kemajuan?”
tidak terbendung lagi kata-kataku mengalir bersamaan dengan tetesan air dari
mataku, dan tak dapat si elakkan lagi, suaraku pun terdengar pilu di telingaku.
“ sudahlah fa, jangan menangis lagi, aku paling tidak bisa mendengarmu menagis”
suara ayahku pun terdengar bergetar. Ahh!! Bagaimana ini? Apakah keputusanku
benar? Aaa!!!. Aku mulai bimbang dengan keputusanku kemudian aku matikan
panggilanku tanpa salam. Karna aku tahu, aku tidak akan mampu bersuara lagi. Aku
mengirim pesan kepada orang tuaku bahwa pulsa ku sudah tidak mencukupi sebagai
alasanku. Akan tetapi aku mendapat taggapan berbeda. Ibuku membalas pesanku
dengan amunisi tajam berbentuk kata-kata.
“ibu
tidak tahu apa yang terjadi disana, ibu tidak tahu organisasi apa yang kamu
ikuti disana bahkan jika kamu mengikuti ISIS ibu juga tidak tahu, kami memang
bukan orang tua yang baik, kami bodoh dan tidak tahu apa-apa. Tapi yang kami
tahu, baik atau tidaknya seseorang bukan dinilai dari ukuran jilbabmu tapi
perilakumu”
Amunisi itu
menghancurkan sisa-sisa ketegaranku. Akan tetapi, aku sudan melangkah ke jalan
yang mana tidak bisa aku tarik kembali. Aku sudah menorehkan tinta di lembar
pertama buku yang di berikan langit untuk ku, dimana tidak ada penghapus yang
mampu menghapuskan goresan tinta yang aku torehkan dengan kesungguhan hati
untuknya. Apapun yang terjadi aku telah memulai langkahku di garis yang Tuhan
serukan padaku.
Magically happen
BalasHapusNice story,
jadi terharu agashi,,
Allah selalu merencanakan yang terbaik…
Semoga menjadi umi yang lebih baik…amin
Love u so much.
besarnya jilbab memang bukan menjadi sebuah tolak ukur kebaikan seseorang, tapi jadikan lah itu untuk menjadikan mu lebih baik
BalasHapusbesarnya jilbab memang bukan menjadi sebuah tolak ukur kebaikan seseorang, tapi jadikan lah itu untuk menjadikan mu lebih baik
BalasHapus