MAGICALLY
HAPPEN
PART 1
Malam
itu, 18 april 2015, ketika semuanya berawal. Tidak ada hujan terlebih petir
malam itu. Hanya langit yang semakin gelap, bulan yang mulai menyempurnakan
bentuknya, dan ribuan rasi bintang yang membentuk ornamen-ornamen indah di langit.
Terdengar suara perbincangan para penghuni rusunawa yang bercengkrama di lantai
dasar. Aku berada di lantai tiga, cukup tinggi untuk sekedar melihat
lalu-lalang pesawat yang melintas di udara. Cukup tinggi pula untuk melihat
kilauan lampu jalan dan gedung di Bandar Lampung pada malam hari. Kedua temanku
tengah sibuk dengan kertas dan tulisan yang tercetak di atasnya. Sedangkan aku?
Tidak ada yang ku kerjakan selain mengusap-usap layar ponsel ku dan
berjalan-jalan di dunia maya. “ ah! Ini dia foto yang ku cari” tampak gambar dua perempuan yang bergaya “duck
face” terpampang di layar ponselku. Mereka adalah aku dan Kurnia, teman
sekamarku. Kurnia adalah adik tingkat ku jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas
yang sama denganku. Dia merupakan seorang akhwat dengn hijabnya yang lebar, yah
biasa di sebut syar’i. Akhwat, ah! Sial aku seringkali di panggil ikhwit oleh
temanku karena ukuran hijabku yang kecil. “ kau belum pantas di sebut Akhwat,
lihatlah kain yang hanya menutupi rambut dan lehermu itu, kau lebih pantas di
sebut ikhwit” begitu katanya, tapi aku tidak peduli pada waktu itu, aku
hanya diam ketika dia mengatakan hal itu. Di foto tersebut tampak aku
mengenakan jilbab biru polos yang pendek sebatas lengan dan kemeja kotak-kotak
berwarna biru. Sedangkan Kurnia, ia mengenakan baju dan kerudung berwarna merah
yang panjang dan lebar, hingga hanya tampak pergelangan tangannya saja. Aku
memasang foto itu sebagai display picture di aplikasi BBM ku. Aku memandangi
foto itu lama sekali, tidak seperti biasanya, entah apa yang aku pikirkan saat
itu, hanya saja ada yang aneh dengan foto itu. “ hey! Apa kau bodoh? Tidak tahu
malu? Lihatlah dirimu, sangat bangga mengenakan pakaian yang tidak sepantasnya
kau kenakan! Lihatlah Kurnia ! tidakkah dia lebih anggun dengan kain lebar nan
panjang itu?” aarrgghhh! Apa ini kenapa ada makian di kepalaku?. Kemudian aku
langsung mengubah display picture ku dengan gambar animasi.
Aku
terus memikirkan hal itu sepanjang malam. Kenapa aku tidak mencobanya? Ah! Tapi
orangtua ku tidak akan setuju. Mereka pasti menolak ini, aku sudah pernah
mencobanya dua kali sebelum ini. “ jangan karena kamu bergaul dengan anak-anak
yang mengenakan hijab syar’i kamu jadi ikut-ikutan, jadilah dirimu sendiri,
kamu itu masih labil, bla-bla-bla” alasan kolot itu ahirnya mematahkan niatku.
Ketika itu aku masih duduk di bangku smp.
Kedua kalinya ketika aku bertemu dengan
seseorang yang terus menceramahiku dan menyuapiku dengan hadist-hadist tentang
wanita muslim. Dia juga memberiku buku tentang hijab berjudul “Samudra Hikmah
di Balik Jilbab Muslimah” buku itu cukup membuka pemikiranku tentang wanita
muslim dan juga menumbuhkan niatku untuk memulainya kembali, ya, mencoba untuk
meraih izin berhijab. Ya, dia adalah orang yang selalu memanggilku ikhwit.
Ketika itu aku mengatakan niatanku untuk mulai berhijab pada kedua orangtua ku
akan tetapi jawaban yang sama masuk ketelingaku seperti halnya buku bergambar
yang kehilangan pensil warnanya. aku marah pada diriku sendiri, karena aku
tidak bisa marah dengan mereka.Selain itu ada kalimat tambahan yang benar-benar
membuatku marah pada diriku sendiri. “jangan karena kamu dipengaruhi
teman-temanmu, kamu terpengaruh menuruti perkataanya, kamu harus jadi diri kamu
sendiri” aaarrrgghh! Apa kalian pikir aku segila itu, melakukan sesuatu hanya
karena orang lain mengatakan agar aku melakukanya?? Aku meikirkan hal ini
sebelumnya. Aku melakukan ini karena ahirnya aku tahu seperti apa seharusnya
wanita muslim berpakaian. Memang merekalah yang memberitahuku hal itu, lalu apa
yang salah?. Kalian yang kolot, kalian yang membutakan mata kalian dari
kebenaran dan hanya melihat gemerlap lampu bernama “modern” yang seolah terang
dan indah padahal itu adalah api yang membara dari kejauhan, dan kalian
mengajaku untuk terus mendekat ke arahnya. Kapan kalian akan menganggapku
dewasa!!.” Andai aku bisa mengatakan hal itu pada mereka. Kalimat-kalimat itu
hanya beterbangan di kepalaku saja.
Kali ini
adalah kali ketiga aku berniat untuk benar-benar berubah, namun aku tidak mau
lemah dan kalah dengan perkataan orang tuaku seperti niat-niatku sebelumnya.