Sabtu, 23 Mei 2015

MAGICALLY HAPPEN



MAGICALLY HAPPEN

PART 1
Malam itu, 18 april 2015, ketika semuanya berawal. Tidak ada hujan terlebih petir malam itu. Hanya langit yang semakin gelap, bulan yang mulai menyempurnakan bentuknya, dan ribuan rasi bintang yang membentuk ornamen-ornamen indah di langit. Terdengar suara perbincangan para penghuni rusunawa yang bercengkrama di lantai dasar. Aku berada di lantai tiga, cukup tinggi untuk sekedar melihat lalu-lalang pesawat yang melintas di udara. Cukup tinggi pula untuk melihat kilauan lampu jalan dan gedung di Bandar Lampung pada malam hari. Kedua temanku tengah sibuk dengan kertas dan tulisan yang tercetak di atasnya. Sedangkan aku? Tidak ada yang ku kerjakan selain mengusap-usap layar ponsel ku dan berjalan-jalan di dunia maya. “ ah! Ini dia foto yang ku cari”  tampak gambar dua perempuan yang bergaya “duck face” terpampang di layar ponselku. Mereka adalah aku dan Kurnia, teman sekamarku. Kurnia adalah adik tingkat ku jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas yang sama denganku. Dia merupakan seorang akhwat dengn hijabnya yang lebar, yah biasa di sebut syar’i. Akhwat, ah! Sial aku seringkali di panggil ikhwit oleh temanku karena ukuran hijabku yang kecil. “ kau belum pantas di sebut Akhwat, lihatlah kain yang hanya menutupi rambut dan lehermu itu, kau lebih pantas di sebut ikhwit” begitu katanya, tapi aku tidak peduli pada waktu itu, aku hanya diam ketika dia mengatakan hal itu. Di foto tersebut tampak aku mengenakan jilbab biru polos yang pendek sebatas lengan dan kemeja kotak-kotak berwarna biru. Sedangkan Kurnia, ia mengenakan baju dan kerudung berwarna merah yang panjang dan lebar, hingga hanya tampak pergelangan tangannya saja. Aku memasang foto itu sebagai display picture di aplikasi BBM ku. Aku memandangi foto itu lama sekali, tidak seperti biasanya, entah apa yang aku pikirkan saat itu, hanya saja ada yang aneh dengan foto itu. “ hey! Apa kau bodoh? Tidak tahu malu? Lihatlah dirimu, sangat bangga mengenakan pakaian yang tidak sepantasnya kau kenakan! Lihatlah Kurnia ! tidakkah dia lebih anggun dengan kain lebar nan panjang itu?” aarrgghhh! Apa ini kenapa ada makian di kepalaku?. Kemudian aku langsung mengubah display picture ku dengan gambar animasi.
Aku terus memikirkan hal itu sepanjang malam. Kenapa aku tidak mencobanya? Ah! Tapi orangtua ku tidak akan setuju. Mereka pasti menolak ini, aku sudah pernah mencobanya dua kali sebelum ini. “ jangan karena kamu bergaul dengan anak-anak yang mengenakan hijab syar’i kamu jadi ikut-ikutan, jadilah dirimu sendiri, kamu itu masih labil, bla-bla-bla” alasan kolot itu ahirnya mematahkan niatku. Ketika itu aku masih duduk di bangku smp.
 Kedua kalinya ketika aku bertemu dengan seseorang yang terus menceramahiku dan menyuapiku dengan hadist-hadist tentang wanita muslim. Dia juga memberiku buku tentang hijab berjudul “Samudra Hikmah di Balik Jilbab Muslimah” buku itu cukup membuka pemikiranku tentang wanita muslim dan juga menumbuhkan niatku untuk memulainya kembali, ya, mencoba untuk meraih izin berhijab. Ya, dia adalah orang yang selalu memanggilku ikhwit. Ketika itu aku mengatakan niatanku untuk mulai berhijab pada kedua orangtua ku akan tetapi jawaban yang sama masuk ketelingaku seperti halnya buku bergambar yang kehilangan pensil warnanya. aku marah pada diriku sendiri, karena aku tidak bisa marah dengan mereka.Selain itu ada kalimat tambahan yang benar-benar membuatku marah pada diriku sendiri. “jangan karena kamu dipengaruhi teman-temanmu, kamu terpengaruh menuruti perkataanya, kamu harus jadi diri kamu sendiri” aaarrrgghh! Apa kalian pikir aku segila itu, melakukan sesuatu hanya karena orang lain mengatakan agar aku melakukanya?? Aku meikirkan hal ini sebelumnya. Aku melakukan ini karena ahirnya aku tahu seperti apa seharusnya wanita muslim berpakaian. Memang merekalah yang memberitahuku hal itu, lalu apa yang salah?. Kalian yang kolot, kalian yang membutakan mata kalian dari kebenaran dan hanya melihat gemerlap lampu bernama “modern” yang seolah terang dan indah padahal itu adalah api yang membara dari kejauhan, dan kalian mengajaku untuk terus mendekat ke arahnya. Kapan kalian akan menganggapku dewasa!!.” Andai aku bisa mengatakan hal itu pada mereka. Kalimat-kalimat itu hanya beterbangan di kepalaku saja.
Kali ini adalah kali ketiga aku berniat untuk benar-benar berubah, namun aku tidak mau lemah dan kalah dengan perkataan orang tuaku seperti niat-niatku sebelumnya.