“eh.. maaf!” kataku saat tak sengaja menabrak seorang siswa
laki-laki di tengah lorong di belakang tempat parkir, dia tidak mengatakan apapun, dia hanya melempar
senyum manisnya sebentar. Hari itu adalah hari pertama aku masuk ke sekolah
menengah pertama, sekolah yang sama sekali tidak aku inginkan, karna aku di
paksa masuk ke sebuah Smp yang bernaung di bawah organisasi Muhammadiyah. Aku
sudah mengatakan pada orang tua ku berkali-kali bahwa aku ingin masuk ke
sekolah Negeri seperti teman-temanku yang lulus dari SD yang sama denganku,
hampir seluruh teman-temanku masuk ke sekolah Negeri itu dan yang paling parah
adalah tidak satupun dari mereka yang mendaftar di Smp Muhammadiyah ini, “kamu
harus mendapat pendidikan agama sebagai dasar untuk melanjut ke sekolah Negri
nantinya!” begitu alasan orang tuaku memaksaku masuk ke sekolah ini. Apa boleh
buat, aku hanya bisa menuruti kemauan mereka.
Aku sedang bingung mencari teman dan aku tidak tahu apa yang harus
aku lakukan, aku tidak mengenal siapapun di ini kecuali tetaggaku, tapi dia
bukan siswa baru di sana, sudah dua tahun dia bersekolah disekolah ini. Aku
hanya duduk sendirian di depan sebuah ruang kelas yang sepi, “ hai..!”
seseorang mengagetkanku, “ehh.. iya hai “ jawabku seadanya. Kemudian dia terus bertanya
dan kami pun berkenalan hingga kemudian aku tahu dia bernama Fona Sagesti, dia
menjadi teman pertamaku di sekolah baru itu.
Di tengah-tengah percakapan ku dengan siswi bernama gesti itu
tiba-tiba bell berbunyi tanda upacara akan di mulai, aku dan gesti berjalan
menuju halaman untuk berbaris. Upacara berjalan dengan sangat membosankan, dan
lama entah apa yang di bicarakan oleh kepala sekolah itu, yang terdengar
hanyalah bising para siswa baru yang tidak tahu bagaimana cara menutup mulut.
Di ahir upacara siswa baru di panggil satu persatu untuk pembagian kelas dan
aku berada di kelas 7a, sama seperti gesti tapi bukanya duduk denganku dia
malah duduk dengan temannya yg berasal dari desa yg sama, aku memilih untuk
duduk di bangku nomer dua, kemudian dua siswi yang bernama Lulu dan Sarah
menghampiriku dan duduk di sebelahku, karena kelas yang tidak memadai sebagian
dari kami harus duduk bertiga dalam satu bangku yang panjang,” ini tidak akan
terjadi jika aku masuk sekolah Negeri” pikirku geram.
Hari-hari pertama aku lalui dengan biasa, aku mulai dekat dengan
temanku sarah, karna belakangan aku tahu dia adalah anak dari teman dekat
ayahku. Aku tidak terlalu memperhatikan anak-anak yang sekelas dengan ku,
hingga pada suatu hari aku baru menyadari ketika salah satu guruku menunjuk
seorang siswa untuk menjawab pertanyaan, dan aku sedikit terkejut karena
ternyata dia adalah siswa yang aku tabrak di lorong sekolah, aku bahkan sudah
lupa tentang hal itu, tapi senyum dan wajahnya yang manis itu membuatku diam
dan memperhatikanya untuk beberapa menit. “ hey.. dia adalah adik sepupuku..”
suara sarah mengagetkanku “benarkah?” jawabku terkejut “iya rumahnya dekat
dengan rumahku, namanya Didi” timpalnya lagi. Entah kenapa dan bagaimana aku
merasa penasaran dengan siswa bernama Didi itu. Aku sering diam-diam
memperhatikanya, dia adalah siswa yang pendiam tapi terkesan berbeda bagiku.
Hari-hari berjalan dengan normal, sebagai anak 12 tahun yang baru mengenal
“monyet” pertama aku malu menunjukan ketertarikanku, jadi aku berusaha terlihat
senormal mungkin saat berada dekat denganya. Kami tidak pernah mengobrol, sama
sekali, hanya sesekali mencandainya. Melihatnya saja membuat gemuruh hati ku,
menurutku dia adalah siswa paling tampan di kelasku, selain dia cool, ehm...
maksudku pendiam wajahnya yang baby face itu tidak bisa di kalahkan oleh
siswa yang lain meskipun ada salah satu siswa yang lumayan ganteng (mirip shahrukh
khan) tapi belum bisa mengalahkan pesona “monyet” pertamaku.
Aku mulai mencari-cari berita tentangnya dari sarah, sesupunya
sekaligus teman dekatku. Dari sarah aku tahu berapa saudaranya seperti apa
sifatnya, dan rumahnya. Semakin lama sarah curiga dengan
pertanyaan-pertanyaanku, “ hayo, kamu nanya terus tentang Didi, kamu suka yaa?”,
suka? Aku tidak tahu, aku belum pernah penasaran pada seseorang, ini hanya
perasaan yang berbeda, perasaan yang belum pernah ada sebelumnya, “ gila, gak
lah suka kenapa, kenapa aku suka” aku mengelak sebisaku tapi gelagat salah
tingkah tidak bisa aku sembunyikan dari sarah, dia terus mendesaku hingga
ahirnya aku mengakuinya. Dia menertawakanku, dan betapa malunya aku. Kepalang
basah bisa apa aku, tapi sejak saat itu aku dengan bebasnya menanyakan semua
hal tentang nya. Perlahan aku mulai berani bertanya ke hal-hal yang lebih
mendalam, aku bertanya apakah dia pernah punya seseorang yang dia suka.
Pertanyaan bahwa” apakah dia punya seseorang yang dia suka?”
mendapatkan jawaban yang cukup untuk menghancurkan rangkaian bunga di depan
mataku terbang berhamburan entah kemana, ternyata dia tertarik dengan
tetangganya yang ternyata juga teman sekelas kami, namanya Rohma, dia cantik
jauh lebih cantik dari ku tentunya, dan dia juga termasuk golongan siswi yang
populer di kalangan para siswa. Sontak membuatku diam dan menyerah.
Sejak saat itu aku mulai diam dan malas memperhatikanya, walaupun
sekedar memandang tak lagi ku lakukan, karna itu hanya membuatku semakin marah,
“dasar anak kecil, masih kecil main suka-sukaan” pikirku geli. Semakin aku
memikirkanya semakin aku malu dan ingin rasanya membuang jauh-jauh pikiran itu.
Tapi apalah daya yang pertama selalu mengajarkan dasarnya, dasar bagaimana
mengagumi seseorang dengan memandangnya lekat-lekat, dasar bagaimana rasanya
mengharapkan kemudian patah, dan dasar bagaimana patahan tersebut tak dapat
menemukan perekat lain selain dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar